We The Fork Gandeng Sinergi Foundation, Salurkan Donasi Rp 300 Juta untuk Sumatera Bangkit
REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH — Di tengah duka yang masih dirasakan para korban bencana di Sumatra, secercah harapan dan dukungan untuk bangkit datang dari banyak pihak.
Masyarakat dari berbagai wilayah membantu dengan menyisihkan sebagian harta demi mengusung satu harapan, Sumatera lekas pulih, Sumatera Bangkit. Tidak terkecuali insan pengusaha yang bergerak di bidang kuliner, yang turut melakukan penggalangan dana, seperti yang dilakukan resto We The Fork Bandung.
Tidak butuh waktu lama, aksi kemanusiaan ini berhasil menghimpun dana sekitar Rp 300 juta yang dikumpulkan secara patungan dari kantong-kantong pemilik usaha hingga karyawannya. Dana ratusan juta ini kemudian secara resmi dititipkan ke Lembaga Amil Zakat tepercaya Sinergi Foundation (SF), pada Sabtu 20 Desember 2025.
Salah seorang owner We The Fork, Faruk Sahwani mengungkapkan jika pihaknya merasa sangat prihatin atas ujian yang didapatkan masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Melihat bencana yang telah memakan korban ribuan jiwa tersebut, tercetus sebuah ide untuk menggalang dana bantuan kemanusiaan.
“Kita prihatin dengan bencana di Sumatra, maka dari itu kemarin kita inisiasi gerakan untuk memberikan apa yang sanggup kita berikan. Karena kita sama-sama tahu kondisi bencana ini bukan kondisi yang biasa,” katanya dalam keterangan Rabu (7/1/2026).
Kolaborasi kebaikan tidak berhenti pada penggalangan donasi, We The Fork juga menyediakan dua unit mobil operasionalnya berupa pickup double cabin dan truk untuk digunakan tim Sinergi Foundation melakukan distribusi bantuan kemanusiaan di lokasi bencana.
Dengan harapan, memudahkan aksi relawan dalam distribusi bantuan tahap lanjutan sehingga hasilnya bisa lebih optimal.
Salah satu unit kendaraan yakni mobil pickup double cabin telah berangkat pada Rabu (31/12/2025), membawa serta bantuan dari Bandung menuju Aceh Tamiang. Mobil tersebut menjadi saksi perjuangan para relawan melanjutkan misi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Sementara satu unit truk dijadwalkan akan segera menyusul ke Aceh Tamiang membawa logistik bantuan tambahan. Atas segala dukungan sekaligus donasi yang diberikan, Direktur Sinergi Amil Zakat–Sinergi Foundation, Waeli Mohdan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada pihak resto We The Fork.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan ini. Insya Allah, kami akan menjadi jembatan penyalur amanah kepada para penyintas bencana. Kami berusaha semaksimal mungkin menyampaikan amanah donasi dari para donatur untuk disampaikan kepada para penyintas bencana Sumatera,” lanjutnya.
Waeli menambahkan, dana yang diamanahkan kepada Sinergi Foundation telah disalurkan bagi para penyintas bencana melalui program #SumateraBangkit.
Program ini mencakup bantuan pada fase tanggap darurat, pemulihan, hingga rekonstruksi pasca bencana,
“Pertama, Fase Tanggap Darurat, bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan dasar berupa paket sembako yang berisi beras, minyak goreng, mie instan, kornet, dan bahan makanan lainnya. Selain itu, bantuan juga mencakup penyediaan air minum galon dan makanan ringan bagi warga terdampak,” paparnya.
Kedua, sambungnya, fase pemulihan, dengan fokus bantuan pada sektor pendidikan, khususnya fasilitas sekolah. Hal ini dikarenakan nyaris lumpuhnya kegiatan pembelajaran di sana lantaran sekolah-sekolah tertutup lumpur setebal 20 sampai 30 sentimeter.
Oleh karena itu, aksi nyata yang dilakukan berupa pembersihan sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat segera berjalan.
“Aksi ini melibatkan dan memberdayakan warga sekitar, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh siswa dan guru, tetapi juga masyarakat yang terlibat (membantu) dan memperoleh penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Ketiga, dikatakan Waeli, fase rekonstruksi pascabencana yaitu melalui program Kampung Bangkit, Sinergi Foundation membangun hunian baru bernama Rumah Tumbuh yang berlokasi di Dusun Buntul Jambu, Desa Baling Karang, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.
Lokasi tersebut dipilih sebab seluruh warganya kehilangan tempat tinggal akibat tersapu banjir bandang.
“Rumah Tumbuh didesain secara semi-permanen dengan model rumah panggung sebagai bagian dari mitigasi terhadap potensi ancaman bencana banjir. Saat ini, pembangunan Rumah Tumbuh memasuki fase pertama dengan target lima unit rumah untuk lima kepala keluarga, dengan penerima manfaat yang diprioritaskan dari kalangan lanjut usia (lansia),” pungkasnya.
Sumber: Republika
