Pertanyakan Efektifitas Kepemimpinan, Ketua PBNU Desak Muktamar Dipercepat
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur, mengatakan bahwa mendukung penuh langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, yang bekerja sama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam upayanya melakukan bersih-bersih terhadap perusahaan pelat merah dari para koruptor.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Seruan percepatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menguat di internal organisasi. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menilai momentum muktamar justru menjadi jalan terhormat untuk mengevaluasi kepemimpinan dan mengembalikan kepercayaan umat.
Gus Fahrur menyebut, organisasi sebesar NU tidak bisa bertahan hanya mengandalkan simbol dan romantisme sejarah. Ia menegaskan, ketika efektivitas kepemimpinan mulai dipertanyakan oleh kader hingga warga nahdliyin, maka langkah evaluasi menyeluruh menjadi keniscayaan.
“Diam bukan pilihan. Justru di titik ini, keberanian untuk bermuktamar menjadi ujian kedewasaan organisasi,” ujar Gus Fahrur dalam keterangannya, Selasa (30/3/2026).
Ia mengakui adanya kesan di masyarakat bahwa kepemimpinan PBNU saat ini mulai kehilangan daya dorong strategis. Respons terhadap persoalan umat dinilai kurang cepat, arah kebijakan belum sepenuhnya jelas, dan komunikasi organisasi dianggap belum menyentuh basis jamaah.
Menurut dia, NU adalah organisasi yang hidup dari denyut akar rumput. Ketika denyut tersebut melemah, yang dibutuhkan bukan pembenaran, melainkan evaluasi total melalui mekanisme yang sah. Gus Fahrur menegaskan, muktamar tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap kepemimpinan yang ada. Dalam tradisi NU, forum tersebut merupakan mekanisme paling elegan dan bermartabat untuk menyelesaikan persoalan internal.
“Menunda muktamar sama saja memperpanjang ketidakpastian. Sementara menyegerakannya adalah bentuk tanggung jawab moral kepada jamaah,” kata pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang, Malang itu.
Loading…
Sumber: Republika
