Kepercayaan pada Amerika Memudar, Eropa Datangi China
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah negara Barat berlomba-lomba mendekati China, kecewa berat dengan kebijakan Donald Trump yang dianggap tak lagi bisa diandalkan sebagai mitra strategis sepenuhnya. Eropa ramai-ramai berpaling ke China, mencari stabilitas dan peluang ekonomi di tengah ketidakpastian dari Washington.
Bagi China, musim dingin biasanya bukan waktu yang ideal untuk kunjungan tingkat tinggi. Namun dalam beberapa bulan terakhir, Beijing dipenuhi dengan aktivitas diplomatik yang dinamis dari Barat. Para pemimpin dari berbagai negara, mulai dari Inggris, Kanada, Prancis, dan Finlandia hingga Irlandia, telah mengunjungi China. Kanselir Jerman Friedrich Merz diperkirakan akan mengunjungi Beijing pada bulan Februari. Sebagian besar kunjungan ini merupakan kunjungan pertama para pemimpin negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir, yang bertujuan untuk memperbarui kemitraan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menemui Xi Jinping pada Kamis, 29 Januari 2026, di Balai Agung Rakyat, Beijing. Dia belum lama ini menyelesaikan kunjungan empat harinya ke China. Ini adalah kunjungan perdana menteri Inggris pertama ke China dalam delapan tahun terakhir sejak 2018. “Mereka bilang bahwa dalam politik, delapan hari adalah waktu yang lama, tetapi ini sudah delapan tahun,” kata Starmer saat tiba di Beijing. Ia kemudian mengadakan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping dan menggambarkan kunjungan itu sebagai “bersejarah,” sebagaimana diberitakan sejumlah kantor berita Barat.
Ini mengakhiri masa kekosongan diplomasi tingkat tinggi yang panjang, kunjungan ini menandai “babak baru” dalam hubungan kedua negara yang sebelumnya mendingin. Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan konkret yang signifikan, termasuk kebijakan bebas visa 30 hari bagi warga negara Inggris, penurunan tarif impor wiski Scotch hingga 50%, serta komitmen investasi AstraZeneca senilai $15 miliar di China.
Secara geopolitik, signifikansi sejarah kunjungan ini terletak pada pergeseran aliansi Barat yang mulai mendiversifikasi hubungan di tengah ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Starmer memilih untuk mengedepankan pendekatan pragmatis dan dialog strategis jangka panjang daripada sekadar mengikuti tekanan AS untuk menjauhi China. Langkah ini menempatkan Inggris sejajar dengan kekuatan Eropa lainnya, seperti Kanada dan Finlandia, yang secara kolektif mulai mencari keseimbangan baru dalam tatanan global yang berubah dengan mempererat kerja sama ekonomi dan teknologi bersama Beijing.
“Para pemimpin Eropa pada dasarnya berlomba untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping,” kata Hosuk Lee-Makiyama, direktur Pusat Kebijakan Ekonomi Politik Internasional Eropa, kepada sejumlah kantor berita.
Bagi China, ini bukan sekadar serangkaian kunjungan seremonial, tetapi juga “angin Barat” yang membawa harapan yang lebih besar mengenai posisi dan peran Beijing dalam tatanan global yang berubah. Menurut para pengamat, akar penyebab tren ini terletak pada perubahan di panggung internasional sejak Presiden AS Donald Trump menjabat.
Kebijakan perdagangan dan keamanan AS yang tidak dapat diprediksi di bawah Trump, bersamaan dengan ancaman Presiden AS terhadap sekutu, menyebabkan keresahan di banyak negara Barat.
Pernyataan yang mengkritik NATO, ancaman tarif, atau argumen bahwa Eropa dan Kanada “berhutang budi” kepada pemerintah telah mengguncang fondasi kerja sama tradisional antara mereka dan AS. Ancaman untuk mencaplok Greenland atau Kanada telah sangat mengikis kepercayaan strategis terhadap AS. “Presiden Trump, dengan langkah-langkah tarifnya, mengirimkan sinyal bahwa ‘Amerika Serikat bukan lagi mitra dagang yang dapat diandalkan’,” kata William Alan Reinsch dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.
Sebagai respons, negara-negara Barat terpaksa melakukan diversifikasi mitra dan mengurangi ketergantungan mereka pada Amerika Serikat. Dalam konteks ini, China muncul sebagai pilihan yang penting baik secara ekonomi maupun strategis. “India dan pasar negara berkembang seperti Amerika Selatan terlalu kecil untuk memenuhi permintaan dari ekonomi yang bergantung pada ekspor seperti Eropa,” kata Lee-Makiyama.
Loading…
Sumber: Republika
