Idul Fitri, Arus Dana dan Wakaf Uang

Oleh : Prof Achmad Firdaus*)
Idul Fitri lazim dipahami sebagai momentum spiritual, hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Inilah saat umat Islam kembali kepada fitrah, memperkuat silaturahim, dan memperbarui komitmen moral di hadapan Allah SWT.
Namun, di balik wajah spiritual dan kulturalnya, Idul Fitri sesungguhnya juga merupakan peristiwa ekonomi yang sangat besar. Pada momentum ini, terjadi arus dana yang masif dari pusat-pusat urban menuju kampung halaman, keluarga besar, dan lapisan masyarakat yang lebih luas.
Tunjangan hari raya (THR), bonus, zakat, sedekah, ongkos mudik, kiriman kepada orang tua, hadiah untuk kerabat, hingga belanja musiman membentuk gelombang redistribusi likuiditas yang luar biasa.
Fenomena ini penting dibaca lebih serius. Selama ini, pembahasan tentang ekonomi Idul Fitri lebih banyak terfokus pada kenaikan konsumsi rumah tangga, lonjakan peredaran uang, inflasi musiman, kepadatan transportasi, atau semarak perdagangan. Semua itu memang benar.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah arus dana besar pada masa Idul Fitri hanya akan berakhir sebagai konsumsi jangka pendek, ataukah dapat ditransformasikan menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang manfaatnya jauh lebih panjang bagi umat?
Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula. Sebagian besar aliran dana Idul Fitri terserap ke dalam pola konsumsi. Pengeluaran untuk makanan, pakaian, perjalanan, parsel, oleh-oleh, hadiah, perayaan keluarga, dan kebutuhan rumah tangga meningkat tajam.
Konsumsi tersebut, tentu saja, tidak dapat dipandang negatif secara mutlak. Dalam batas tertentu, konsumsi bahkan dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi, memperkuat kebahagiaan keluarga, dan menjaga tradisi sosial yang telah mengakar.
Masalahnya bukan pada konsumsi itu sendiri, melainkan pada dominannya konsumsi sebagai tujuan akhir.
Akibatnya, energi ekonomi umat yang sangat besar pada musim Idul Fitri lebih banyak habis sebagai pengeluaran sesaat, bukan sebagai modal sosial yang dapat terus bertumbuh.
Kita sesungguhnya sedang menyaksikan sebuah paradoks.
Loading…
Disclaimer:
Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Sumber: Republika
