Dari Zarkah untuk Palestina: Jejak Kebaikan Indonesia di Musim Dingin Yordania
REPUBLIKA.CO.ID, ZARKAH — Pukul 11 siang, udara Zarkah terasa menggigit. Saat saya membuka aplikasi cuaca di ponsel, angka 7 derajat celcius terpampang jelas, pertanda musim dingin telah benar-benar tiba. Pada Februari nanti, suhu biasanya turun lebih rendah, bahkan disertai salju. Bagi para pengungsi Palestina yang tinggal di tenda-tenda dan permukiman sementara, kondisi ini menjadi beban yang semakin berat.
Kami tiba di gudang distribusi di wilayah Zarkah menggunakan satu bus. Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Namun di dalamnya, suasana penuh energi: suara kardus dilipat, lakban ditarik, relawan saling memanggil, dan para pimpinan lembaga filantropi Indonesia sibuk memastikan setiap paket berisi lengkap. Sebanyak 500 paket bantuan bahan makanan dirampungkan hari itu untuk didistribusikan ke titik-titik pengungsian Palestina di Yordania.
Isi paketnya adalah kebutuhan paling dasar: beras, minyak, tepung, bumbu dapur, barang-barang sederhana, tetapi sangat berarti bagi keluarga yang kehilangan rumah dan masa depan. Selain itu, bantuan selimut musim dingin juga disiapkan. Di suhu sedingin ini, sehelai selimut tebal bisa menentukan apakah seseorang bisa tidur dengan hangat atau berjuang melawan udara beku.
Aksi Solidaritas Indonesia untuk Kemanusiaan
Penyaluran ini diorganisasi oleh Konsorsium Kebaikan Indonesia dalam kegiatan bertajuk Aksi Solidaritas Indonesia untuk Kemanusiaan. Ada enam lembaga filantropi yang tergabung di dalamnya: Rumah Zakat, Masjid Nusantara, Sharing Happiness, Rumah Wakaf, Better Youth, dan Relawan Nusantara.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, mengatakan, “Program penyaluran untuk pengungsi Palestina ini adalah program rutin Rumah Zakat, yang bersumber dari donasi, infak, dan sedekah masyarakat Indonesia. Kebaikan Indonesia adalah simbol gotong royong, dan nilai ini harus kita jalankan dan kuatkan. Semoga aksi ini terus berlanjut untuk Palestina, meskipun kami juga terus berkontribusi membantu korban bencana di Sumatera.”
Membangun Gerakan Bersama yang Lebih Besar
Sementara itu Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim yang juga datang ke gudang ini, menegaskan pentingnya memperbesar gerakan bersama ini.
“Konsorsium itu bisa kita perbesar. Sekarang ada 6, ke depan bisa ratusan lembaga filantropi yang bergabung dalam National Consortium for Palestine. Ini sangat mungkin karena kerja sama antar lembaga sudah dilakukan. Tinggal memadukan ini menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “MUI dalam waktu dekat akan mengundang ormas Islam dan lembaga filantropi untuk membahas hal ini. Ini peluang Indonesia mengambil peran strategis di kancah global sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dan the most generous country in the world.”
Dan dari gudang kecil di Yordania ini, Indonesia kembali membuktikan sesuatu: bahwa jarak tidak pernah menjadi penghalang bagi solidaritas, dan musim dingin tidak pernah bisa membekukan semangat memberi.
Sumber: Republika
